SURABAYA 5 September 2026 — Dunia pesantren terus menghadapi tantangan baru di tengah perkembangan teknologi dan persaingan global yang semakin dinamis. Menjawab tantangan tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Pelatihan Santri Tangguh sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat kapasitas santri agar tidak hanya unggul dalam pengetahuan keagamaan, tetapi juga memiliki keterampilan, wawasan, dan daya saing yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan pesantren ini menjadi ruang pembelajaran bagi para santri untuk mengembangkan potensi diri melalui berbagai materi dan aktivitas yang berorientasi pada peningkatan kompetensi. Pelatihan tersebut dihadirkan sebagai bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung penguatan sumber daya manusia pesantren di tengah perubahan sosial, teknologi, dan ekonomi yang berlangsung begitu cepat.
Melalui program Santri Tangguh, LPPM UNESA berupaya membangun perspektif baru bahwa santri memiliki peluang yang luas untuk mengambil peran di berbagai sektor kehidupan. Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi pribadi yang memiliki kedalaman spiritual, tetapi juga dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, bekerja sama, serta memiliki keberanian untuk berkompetisi di tingkat yang lebih luas.

Prof. Dr. H. Muhammad Turhan Yani, M.A. dalam semangat kegiatan tersebut menekankan pentingnya membangun karakter santri yang mampu memadukan nilai keislaman dengan kompetensi abad ke-21.
“Santri tangguh bukan hanya santri yang kuat dalam ilmu agama, tetapi juga santri yang mampu membaca perubahan zaman. Nilai-nilai pesantren harus menjadi fondasi untuk melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, adaptif, dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat.”
Menurutnya, pesantren memiliki modal besar dalam membentuk generasi yang berkarakter. Lingkungan pesantren yang menanamkan kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan nilai-nilai keagamaan menjadi fondasi penting untuk menghadapi tantangan global.
Sementara itu, Dr. Mufarrihul Hazin, S.Pd.I., M.Pd. memberikan dorongan agar para santri tidak berhenti pada proses belajar di ruang kelas atau lingkungan pesantren. Santri perlu berani keluar dari zona nyaman dan mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi bekal untuk masa depan.
“Jangan pernah merasa bahwa status sebagai santri membatasi langkah kalian. Justru pesantren adalah tempat untuk membangun keberanian, karakter, dan daya juang. Dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar berbicara, tetapi mampu bergerak, berkarya, dan menghadirkan perubahan.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan era global tidak cukup dijawab dengan penguasaan teori semata. Santri perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kreativitas, kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan berkolaborasi. Kompetensi tersebut menjadi semakin penting karena perkembangan dunia kerja dan kehidupan sosial menuntut generasi muda untuk mampu beradaptasi dengan cepat.
Pelatihan ini sekaligus menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran strategis dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya komunitas pesantren. Melalui kolaborasi antara akademisi dan pesantren, berbagai potensi yang dimiliki santri dapat dikembangkan secara lebih terarah sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan sekitarnya.
Bagi para peserta, kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan, melainkan momentum untuk membangun kepercayaan diri dan membuka pandangan bahwa masa depan santri sangat luas. Dari lingkungan pesantren, mereka dapat tumbuh menjadi pendidik, akademisi, pengusaha, pemimpin, profesional, maupun penggerak masyarakat.
Pada akhirnya, Pelatihan Santri Tangguh menjadi bagian dari ikhtiar LPPM UNESA untuk menyiapkan generasi pesantren yang mampu berdiri tegak di tengah perubahan zaman. Dengan perpaduan antara akhlak, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan keberanian berinovasi, santri diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam era global, tetapi tampil sebagai pelaku perubahan.
Sebab, santri masa kini bukan hanya dituntut untuk mampu bertahan menghadapi zaman, tetapi juga harus siap menjadi generasi yang ikut menentukan arah masa depan.

