SURABAYA, Badan Eksekutif Mahasiswa FIP UNESA – Momentum pertandingan futsal dalam ajang EFA Competition yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (BEM FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pesan sosial. Pada 2 November 2026, mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Khusus dan Manajemen Pendidikan menunjukkan aksi simbolik usai pertandingan futsal dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka secara serentak sembari mengangkat tiga jari ke udara.
Aksi tersebut tidak sekadar menjadi ekspresi kecintaan terhadap tanah air, tetapi juga membawa pesan kritik terhadap berbagai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat. Tiga jari yang diangkat merepresentasikan tiga seruan, yakni #SadarDipalak, #SadarDibakar, dan #SadarDimiskinkan.
Momen ini berlangsung di tengah rangkaian EFA Competition yang berada di bawah kepemimpinan Gubernur BEM FIP UNESA, Hirza Al-Haq. Melalui aksi tersebut, mahasiswa berupaya menghadirkan ruang kesadaran bahwa kegiatan kemahasiswaan tidak hanya berkaitan dengan kompetisi dan hiburan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan aspirasi serta kepedulian terhadap kondisi sosial bangsa.
Dari Lapangan Futsal, Mahasiswa Sampaikan Pesan Perlawanan
Usai pertandingan antara Program Studi Pendidikan Khusus dan Manajemen Pendidikan, suasana kompetisi berubah menjadi momentum penyampaian pesan bersama. Para mahasiswa menyanyikan Indonesia Pusaka sembari memperlihatkan simbol tiga jari sebagai bentuk ekspresi solidaritas dan perlawanan terhadap persoalan yang mereka suarakan.
Tiga tagar yang dibawa dalam aksi tersebut menjadi representasi keresahan terhadap berbagai persoalan sosial, mulai dari praktik pemalakan, kekerasan, hingga kondisi ekonomi yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Pemilihan lagu Indonesia Pusaka juga menghadirkan pesan simbolis tentang kecintaan terhadap bangsa. Nasionalisme, dalam konteks ini, tidak hanya dimaknai melalui penghormatan terhadap simbol negara, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian dan keberanian menyampaikan aspirasi terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Aksi tersebut menjadi pengingat bahwa mahasiswa memiliki ruang dan tanggung jawab untuk tetap kritis terhadap berbagai dinamika sosial yang berkembang.
Jejak Narasi FIP Abadikan Momentum Suara Mahasiswa
Pesan yang disampaikan melalui aksi tersebut kemudian turut dipublikasikan melalui akun media Jejak Narasi FIP. Platform media yang dinahkodai Abdillah Rosyid bersama jajaran stafnya ini menjadi salah satu ruang publikasi untuk mendokumentasikan sekaligus menyebarluaskan pesan sosial yang muncul dalam kegiatan mahasiswa.
Dalam proses publikasi tersebut, Abdillah Rosyid turut didukung oleh Randi dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Alina dari Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK).
Melalui dokumentasi dan publikasi tersebut, Jejak Narasi FIP berupaya membawa pesan yang lahir dari lingkungan kampus agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Kehadiran media mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi kegiatan fakultas, tetapi juga menjadi ruang untuk merekam peristiwa, mengangkat isu, dan memperluas percakapan publik.
Publikasi ini sekaligus menunjukkan bagaimana media mahasiswa dapat mengambil bagian dalam menyuarakan keresahan sosial melalui pendekatan jurnalistik dan dokumentasi peristiwa.

Mahasiswa FIP UNESA Ikut Ambil Bagian dalam Menyuarakan Isu Sosial
Aksi simbolik dalam EFA Competition tersebut menjadi salah satu bentuk ikhtiar mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA untuk membangun kesadaran publik terhadap berbagai persoalan yang tengah menjadi perhatian masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa dalam menyampaikan pesan sosial menunjukkan bahwa ruang akademik dan kegiatan kemahasiswaan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kondisi bangsa.
Melalui aksi sederhana di lapangan futsal, mahasiswa ingin memperlihatkan bahwa suara kritis tidak harus selalu lahir dari forum diskusi formal atau demonstrasi. Pesan juga dapat disampaikan melalui kegiatan olahraga, ekspresi kebudayaan, dan publikasi media mahasiswa.
Pada akhirnya, mengangkat tiga jari dan menyanyikan Indonesia Pusaka bukan sekadar simbol dalam sebuah pertandingan. Aksi tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mengingatkan bahwa kecintaan terhadap Indonesia juga membutuhkan keberanian untuk peduli, bersuara, dan mengawal berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini.
Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA melalui ruang-ruang aktivitas mahasiswanya turut memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap persoalan bangsa dapat tumbuh dari lingkungan kampus dan disuarakan melalui berbagai medium.
