
Jakarta, 23 September 2026 — Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari jumlah tersebut, sekitar 40.363 kasus terjadi pada balita. Data tersebut menjadi perhatian karena kelompok anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak buruk kualitas udara akibat asap kebakaran.
Karhutla tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Asap hasil pembakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak.
Data Kementerian Kesehatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar kerusakan lahan. Ketika asap menyebar ke kawasan permukiman, masyarakat harus menghadapi potensi gangguan kesehatan, khususnya mereka yang memiliki kondisi tubuh lebih rentan seperti anak-anak.
Jumlah kasus pada balita juga menjadi perhatian tersendiri. Dari total 174.694 kasus yang tercatat, 40.363 kasus merupakan balita, sehingga perlindungan terhadap anak menjadi salah satu hal penting dalam menghadapi kondisi udara yang terdampak asap karhutla.
Di sisi lain, pemerintah juga terus melakukan penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Laporan pada 22 September menyebutkan bahwa 4.465,6 hektare area karhutla berhasil dipadamkan dalam lima hari, menunjukkan bahwa penanganan kebakaran masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan langkah yang tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada perlindungan masyarakat yang terdampak asap. Pemantauan kesehatan dan kualitas udara menjadi bagian penting selama kondisi karhutla masih terjadi.
