Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026. Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah berada di level Rp17.911 per dolar AS, menguat 6 poin atau sekitar 0,03 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.917 per dolar AS. Penguatan ini terjadi ketika pergerakan mata uang kawasan Asia cenderung bervariasi terhadap dolar AS.
Penguatan rupiah dipengaruhi oleh melemahnya indeks dolar AS setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang lebih lemah dari perkiraan. Pelaku pasar juga memperhatikan prospek kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed, terutama menjelang publikasi FOMC Minutes pada 7 Oktober 2026. Data ketenagakerjaan AS yang sebelumnya lebih lemah dari perkiraan turut meningkatkan ekspektasi bahwa kebijakan The Fed dapat menjadi lebih dovish, sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat. Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas karena imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak mentah dunia masih berada pada level tinggi. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang dan membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Selain faktor global, pelaku pasar domestik juga masih menunggu sejumlah data ekonomi penting Indonesia yang akan dirilis pekan ini, seperti cadangan devisa, Indeks Keyakinan Konsumen, dan penjualan ritel.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih memiliki peluang bergerak menguat, tetapi ruang penguatannya relatif terbatas. Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar tersebut masih akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan The Fed, harga minyak dunia, serta sentimen investor terhadap kondisi perekonomian global dan domestik.
