Samarinda, 16 Oktober 2026 — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali memakan duka. Dalam sepekan terakhir, dua bayi di dua provinsi berbeda meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan berat. Di Samarinda, Kalimantan Timur, dan Barito Selatan, Kalimantan Tengah, keluarga menduga paparan asap pekat menjadi pemicunya, sementara penyebab pasti secara medis masih menunggu konfirmasi.
Samarinda: Dirawat Semalam di Ruang Intensif
Di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, seorang bayi dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 06.00 WITA. Bayi itu sempat berjuang semalam di ruang perawatan intensif setelah mengalami sesak napas mendadak. Sejumlah media menyebut usianya sekitar satu tahun.
Sang kakek, Sarno, mengatakan kabut asap karhutla begitu pekat hingga masuk ke dalam rumah dan menyelimuti permukiman mereka dalam beberapa hari terakhir. Ia meyakini asap berkaitan dengan memburuknya pernapasan cucunya.
“Kami khawatir kondisi asap itu berdampak pada pernapasannya,” kata Sarno.
Sarno kemudian meminta warga tidak membakar lahan. Hingga kini, keluarga masih menunggu konfirmasi medis dari rumah sakit maupun Dinas Kesehatan mengenai penyebab pasti kematian.
Barito Selatan: Pneumonia, Asap Dinilai Memperburuk
Lima hari sebelumnya, Sabtu (10/10/2026), seorang bayi perempuan berinisial SH (6 bulan) asal Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, meninggal di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Jaraga Sasameh Buntok. Ia tiba sekitar pukul 14.00 WIB dalam kondisi sesak napas dan kejang, lalu meninggal sekitar pukul 17.00 WIB. Hasil pemeriksaan menunjukkan ia menderita pneumonia.
Sekitar sepekan sebelumnya, bayi itu sempat batuk dan pilek yang sempat mereda, sebelum kondisinya memburuk mendadak di tengah kabut asap karhutla yang menyelimuti wilayah tersebut.
Dokter spesialis penyakit dalam RSUD Jaraga Sasameh, Dadang Baskoro Nugroho, menjelaskan pneumonia dipengaruhi banyak faktor, dan menghirup asap tebal membuat risikonya lebih besar. Namun, kabut asap tidak dapat disimpulkan sebagai satu-satunya penyebab kematian. Pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan sepakat bahwa paparan asap memperberat atau memicu perburukan kondisi pernapasan yang sudah ada, bukan penyebab yang berdiri sendiri.
Kelompok Rentan
Laporan media menyebut bayi, balita, dan lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan, termasuk kelompok yang paling rentan terhadap kabut asap. Sebelum dua kasus ini, seorang guru honorer di Banjarmasin juga meninggal pada 27 September 2026 setelah asmanya diduga kambuh akibat paparan asap.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan saat kabut asap menebal, termasuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas.
Dua kematian bayi dalam sepekan ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan kelompok yang paling tidak berdaya.
