SURABAYA — Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan dialog interaktif bertajuk “Kampus Berdampak untuk Desa: Mendorong Inovasi dan Pemberdayaan dalam Pengentasan Kemiskinan” pada Kamis (5/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kampus Universitas Negeri Surabaya ini menghadirkan akademisi, praktisi, mahasiswa, serta tokoh masyarakat untuk membahas kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan dan kemandirian desa.

Dialog interaktif tersebut menjadi ruang diskusi untuk mempertemukan perspektif akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam merumuskan pendekatan pemberdayaan desa. Pembahasan berfokus pada strategi pengentasan kantong-kantong kemiskinan, optimalisasi peran perguruan tinggi, serta penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam mendorong inovasi dan pemberdayaan ekonomi desa.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan doa. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, S. Pd., M. Kes., serta Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Andie Megantara, Ph.D.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan cendera mata dari masing-masing instansi dan foto bersama.

Sesi utama dialog interaktif dimoderatori oleh Dr. Mufarrihul Hazin, S.Pd.I., M.Pd. Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yaitu Leo Efriansa, S.STP, M.Si selaku Asisten Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat; Prof. Dr. Bachtiar Syaiful Bachri, M.Pd. selaku Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan sekaligus Wakil Rektor II UNESA; serta Dimas Oky Nugroho, Ph.D., seorang pegiat isu dan antropolog sosial.

Terdapat tiga pokok pembahasan dalam sesi tersebut. Pertama, strategi penurunan kantong-kantong kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat desa. Kedua, optimalisasi peran perguruan tinggi dalam mendorong inovasi dan pemberdayaan ekonomi desa. Ketiga, kolaborasi pemerintah, kampus, dan masyarakat dalam membangun kemandirian masyarakat.

Melalui pembahasan tersebut, dialog diarahkan untuk melihat bagaimana pengetahuan, riset, dan inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi dapat dihubungkan dengan kebutuhan nyata masyarakat desa. Perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi mitra masyarakat dalam mengembangkan kapasitas, potensi lokal, dan aktivitas ekonomi produktif.

Keterlibatan tokoh masyarakat dan mahasiswa turut memberikan ruang pertukaran pandangan mengenai tantangan pemberdayaan di tingkat lokal. Kolaborasi berbagai pihak menjadi salah satu aspek penting agar program pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga mampu mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan dan pandangan kepada para narasumber. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan permainan interaktif menggunakan Kahoot yang memuat delapan pertanyaan.

Melalui dialog interaktif ini, UNESA mendorong penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat desa. Harapannya, gagasan serta perspektif yang muncul dalam diskusi dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat inovasi, pemberdayaan ekonomi, dan strategi pengentasan kemiskinan berbasis kolaborasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *