
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau kondisi cuaca Indonesia untuk periode 8–14 September 2026. Di tengah kondisi kemarau yang masih cukup ekstrem di sejumlah wilayah serta aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, beberapa daerah tetap berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hujan tersebut juga berpeluang disertai petir dan angin kencang, terutama pada 9–10 September 2026.
Kondisi cuaca tersebut berlangsung di tengah sejumlah fenomena yang turut memengaruhi atmosfer Indonesia. Selain kondisi kemarau yang masih dominan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga menyebabkan adanya sebaran abu vulkanik di beberapa wilayah. Berdasarkan analisis citra RGB Satelit Himawari-9 pada 7 September 2026 pukul 07.00 WIB, sebaran abu vulkanik terpantau berada pada dua lapisan atmosfer dengan arah pergerakan yang berbeda.
Pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki, abu vulkanik bergerak dari sektor tenggara menuju barat laut dan melintasi sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Sementara itu, pada ketinggian 15.000–50.000 kaki, material abu bergerak lebih jauh ke arah barat hingga barat daya, mencapai wilayah Samudra Hindia di sebelah barat-barat daya Bengkulu, Lampung, dan selatan Banten. Kondisi ini sebelumnya turut berdampak terhadap aktivitas penerbangan dan menjadi salah satu alasan dilakukannya penutupan sementara sejumlah bandara sebagai langkah mitigasi keselamatan. BMKG pada 8 September juga melaporkan bahwa sejumlah bandara mulai kembali beroperasi setelah hasil pengujian menunjukkan kondisi aman dari abu vulkanik.

Risiko Karhutla Meningkat akibat El Niño yang Masih Kuat
Selain aktivitas vulkanik, kualitas udara di sejumlah wilayah juga masih dipengaruhi oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap dilaporkan masih menyelimuti sembilan provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan atmosfer yang relatif kering serta pengaruh El Niño yang masih berada dalam kategori sangat kuat pada Dasarian III Agustus 2026.
Pengaruh kondisi kering tersebut terlihat dari panjangnya periode Hari Tanpa Hujan (HTH) di sejumlah wilayah. Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, misalnya, tercatat mengalami HTH hingga 122 hari, sementara Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mencapai 121 hari. Kondisi panas juga masih terjadi di beberapa daerah, dengan suhu maksimum yang menembus 36 derajat Celsius di Kalimantan Timur, Lampung, dan Jawa Tengah pada 4–6 September 2026.
Mengapa Hujan Lebat Masih Mengintai di Tengah Musim Kemarau?
Namun, kemarau tidak berarti seluruh wilayah Indonesia terbebas dari hujan. Pada 3–6 September 2026, sejumlah daerah justru sempat mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Curah hujan harian tertinggi tercatat di Sumatera Utara sebesar 137 milimeter, disusul Aceh 94 milimeter, Sulawesi Selatan 55 milimeter, dan Kalimantan Barat 50 milimeter.
Munculnya hujan lebat di tengah kondisi kemarau dipengaruhi oleh kombinasi beberapa dinamika atmosfer. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tertentu. Kondisi tersebut kemudian diperkuat oleh adanya belokan angin, pertemuan massa udara atau konvergensi, serta suhu muka laut yang relatif hangat. Kombinasi faktor-faktor tersebut dapat menyediakan cukup uap air dan memicu pertumbuhan awan konvektif, sehingga hujan tetap dapat terjadi secara lokal meskipun secara umum Indonesia masih berada dalam periode kemarau.

Wilayah Berpotensi Hujan pada 9-10 September 2026
Untuk 9 September 2026, aktivitas MJO yang berada di sekitar Aceh dan Sumatera Utara menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan potensi hujan di kawasan tersebut. Karena itu, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diprakirakan berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Sementara itu, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, dan Papua Pegunungan berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Pada hari yang sama, potensi angin kencang juga perlu diperhatikan di Aceh, Banten, Jawa Timur, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Papua Pegunungan. Kemunculan angin kencang tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan dinamika pola angin dan kondisi atmosfer yang dapat meningkatkan kecepatan angin di wilayah tertentu. Masyarakat di daerah tersebut perlu mengantisipasi kemungkinan dampak seperti pohon tumbang, gangguan perjalanan, maupun kerusakan ringan pada bangunan atau fasilitas yang rentan terhadap angin.
Memasuki 10 September 2026, potensi hujan masih berlanjut di sejumlah wilayah. Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Papua Pegunungan, dan Papua diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Sementara itu, Aceh dan Sumatera Utara kembali menjadi wilayah yang perlu mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari aktivitas dinamika atmosfer yang masih berlangsung. Gelombang Kelvin diperkirakan berpengaruh terhadap wilayah Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara, sedangkan pola belokan angin dapat terbentuk mulai dari Sumatera Utara hingga Papua. Interaksi antara gelombang atmosfer, pola angin, ketersediaan uap air, dan kondisi suhu muka laut dapat membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih aktif di wilayah-wilayah tertentu.
Selain hujan, potensi angin kencang pada 10 September juga perlu diwaspadai di Banten, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan. Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk memperhatikan perkembangan informasi cuaca, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan maupun perjalanan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kondisi kemarau tidak selalu berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami cuaca panas dan tanpa hujan. Dalam kondisi atmosfer tertentu, hujan lebat tetap dapat terbentuk secara lokal ketika terdapat kombinasi dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan. Karena itu, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi dan peringatan dini BMKG, terutama ketika terdapat potensi hujan lebat, petir, maupun angin kencang.
