Surabaya — Upaya memperkuat peran desa dalam perekonomian nasional kembali dilakukan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Grand Launching UNESA Village Award (UVA) 2026 yang berlangsung bersamaan dengan Webinar Nasional bertajuk “Desa Penggerak Ekonomi Indonesia”, Rabu (30/9/2026). Kegiatan yang digelar oleh Pusat Pengembangan Desa dan Daerah (Pusbangdesda) LPPM UNESA tersebut mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, perbankan, legislatif, serta para penggerak desa untuk membahas pengembangan ekonomi perdesaan. Sekitar 261 peserta mengikuti kegiatan yang juga menjadi ruang berbagi praktik dan gagasan mengenai penguatan potensi desa.

Kepala Pusbangdesda LPPM UNESA, Dr. Mufarihul Hazin, M.Pd., mengatakan UVA 2026 tidak hanya diarahkan sebagai ajang penghargaan, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai pihak dalam melihat desa dari perspektif pembangunan yang lebih luas.

“Desa bukan lagi hanya sekadar menjadi objek pembangunan, tapi desa adalah subjeknya pusat inovasi, pusat produksi, sekaligus kekuatan ekonomi Indonesia,” ujar Mufarihul dalam laporannya.

Beliau menjelaskan, desa memiliki beragam potensi, mulai dari pertanian, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, hingga inovasi sosial. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut dapat dikelola secara produktif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui Pusbangdesda, UNESA mengambil peran dalam pengembangan desa melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, inovasi, pendampingan, dan kolaborasi multipihak. Mufarihul berharap forum tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berlanjut menjadi aksi yang memberi dampak bagi desa.

Kepala LPPM UNESA, Prof. Dr. H. Muhammad Turhan Yani, M.A., menyebut pelaksanaan UVA sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mengapresiasi para penggerak pembangunan desa. Ia menilai desa memiliki sumber daya alam dan tenaga kerja yang dapat menjadi basis produksi sekaligus bagian penting dari pembangunan ekonomi nasional.

Menurutnya, pengembangan desa membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. UNESA sendiri telah menjalankan sejumlah kegiatan pendampingan, termasuk pengembangan desa digital dan smart farming melalui LPPM.

“Minimal ikut memikirkan. Syukur-syukur kita ini bisa melakukan satu aksi nyata sesuai dengan kapasitas dan peran kita masing-masing,” gagas Muhammad Turhan Yani.

Beliau kemudian secara resmi membuka rangkaian Webinar Nasional dan UNESA Village Award 2026.

Dari sisi pemerintah, Dewi Yuliani, M.P., Direktur Pengembangan Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal, memaparkan sejumlah persoalan yang masih dihadapi dalam pengembangan ekonomi perdesaan. Di antaranya belum optimalnya kelembagaan ekonomi desa, rendahnya daya saing dan akses pasar produk desa, keterbatasan pembiayaan atau investasi, serta kapasitas sumber daya manusia yang masih perlu diperkuat.

Dewi menyampaikan paparan tersebut mewakili Dirjen Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa yang berhalangan hadir karena mengikuti rapat pimpinan. Dalam paparannya, ia menjelaskan empat aspek yang menjadi perhatian dalam pengembangan ekonomi desa, yakni revitalisasi BUMDes dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, pengembangan desa ekspor, hilirisasi produk unggulan desa, serta peningkatan investasi desa.

Salah satu yang ditekankan adalah hilirisasi. Menurut Dewi, produk desa perlu dikembangkan agar tidak berhenti sebagai bahan mentah.

“Hilirisasi produk unggulan desa itu adalah memberikan nilai tambah dari produk yang ada. Kita standarisasi, terus kita legalitas produk lokal,” jelasnya.

Ia mencontohkan pengolahan kacang tanah menjadi selai kacang dan nanas menjadi selai nanas. Produk yang telah melalui proses hilirisasi selanjutnya diarahkan untuk memenuhi standar dan legalitas, termasuk SNI, sertifikasi halal, PIRT, BPOM, dan HKI. Dewi juga memaparkan pengembangan desa ekspor sebagai salah satu upaya memperluas pasar produk lokal. Ia menyebut sejumlah komoditas desa telah berhasil menembus pasar luar negeri melalui berbagai tahapan pengembangan dan pendampingan.

Perspektif lain datang dari sektor perbankan. Umi Hartatik, Assistant Vice President PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), menekankan bahwa pengembangan ekonomi desa tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur atau pemberian modal.

Menurut Umi, penguatan kapasitas masyarakat, penciptaan kegiatan ekonomi produktif, akses pasar, dan perluasan ekosistem usaha merupakan bagian penting agar kegiatan ekonomi desa dapat berkembang dalam jangka panjang. Ia juga melihat perbankan tidak hanya berperan sebagai penyedia pembiayaan. Infrastruktur transaksi, digitalisasi, serta kemampuan menghubungkan berbagai pihak dapat digunakan untuk mendukung ekosistem ekonomi masyarakat desa.

Sementara itu, H. Sudjatmiko, S.T., Anggota Komisi V DPR RI, menyoroti persoalan keterhubungan rantai ekonomi desa. Menurutnya, potensi produksi yang besar tidak akan memberikan nilai ekonomi maksimal apabila tidak diikuti pengolahan, distribusi, dan akses pembeli.

“Ekonomi desa itu bisa tumbuh ketika produksi, pengolahan, distribusi, dan pembelian saling terhubung,” ujarnya dalam sesi webinar.

Ia mencontohkan hasil pertanian, perikanan, wisata, dan usaha rumah tangga sebagai sejumlah sumber penghidupan masyarakat desa. Namun, keterbatasan akses pasar, biaya distribusi, serta karakter produk yang mudah rusak masih menjadi tantangan dalam meningkatkan nilai produk desa.

Peluncuran UVA 2026 mempertegas upaya UNESA menjadikan desa sebagai bagian dari ekosistem pembangunan yang melibatkan perguruan tinggi dan berbagai pemangku kepentingan. Bagi UNESA, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan inovasi dan praktik baik yang berkembang di desa. Rangkaian kegiatan diharapkan dapat mempertemukan gagasan dari berbagai sektor dengan kebutuhan nyata masyarakat desa. Dengan demikian, desa tidak hanya dipandang sebagai penerima program pembangunan, tetapi sebagai aktor yang memiliki potensi untuk mengembangkan inovasi dan menggerakkan aktivitas ekonomi.

Melalui UVA 2026, UNESA kembali membawa semangat kolaborasi antara perguruan tinggi dan desa dengan pesan yang disampaikan dalam pembukaan kegiatan: “Dari UNESA untuk desa, dari desa untuk Indonesia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *