Mentawai, 16 Oktober 2026 — Sebuah sampan cadik yang mengangkut puluhan siswa SMA Negeri 1 Pagai Utara Selatan (SMAN 1 PUS) terbalik di Selat Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Selasa (13/10/2026). Seluruh penumpang berhasil diselamatkan berkat pertolongan nelayan yang berada di sekitar lokasi, dan tidak ada korban jiwa maupun hilang.

Kecelakaan terjadi saat para siswa dalam perjalanan pulang sekolah, menyeberang dari Pulau Pagai Selatan menuju pusat Kecamatan Sikakap di Pulau Pagai Utara. Sebuah video yang beredar menunjukkan sejumlah pelajar berada di sekitar perahu yang telah terbalik dan sebagian menangis histeris, sementara perahu-perahu lain datang memberikan pertolongan.

Cadik Patah, Sampan Kehilangan Daya Apung

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Mentawai, Benteng Hilton Telaumbanua, menjelaskan bagian kanan sampan patah saat berlayar, sehingga air laut masuk ke badan sampan dan membuatnya kehilangan daya apung hingga terbalik.

“Bagian kanan sampan mengalami patah sehingga air laut masuk ke badan kapal,” kata Benteng dalam keterangan resmi.

Kantor SAR Mentawai menerima laporan resmi pada pukul 17.50 WIB. Tim kemudian berkoordinasi dengan Polsek Sikakap, Pos TNI AL Sikakap, Danramil, Camat Sikakap, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), orang tua siswa, serta masyarakat setempat. Seluruh penumpang dievakuasi ke daratan menggunakan perahu nelayan.

Jumlah Penumpang dan Dugaan Kelebihan Muatan

Jumlah penumpang menjadi sorotan. Data awal Kantor SAR menyebut sekitar 37 siswa, namun catatan pihak sekolah menyebut 46 siswa berada di atas sampan. Kepala SMAN 1 PUS, Kristin Filiana Br Maringga, menyebut perahu itu diduga terbalik karena muatan terlalu banyak. Dalam laporan Kompas, perahu tersebut disebut berkapasitas 25 orang. Sementara itu, Camat Sikakap, Rosalinda, menyatakan perahu tersebut kelebihan muatan saat penyeberangan.

Kristin mengatakan sekitar 80 persen dari 616 siswa sekolahnya tinggal di pusat Kecamatan Sikakap, sehingga setiap hari harus menyeberang. Sejak menjabat setahun lalu, ia mengaku sudah mendatangi atau menghubungi pejabat pemerintah dan aparat setempat untuk menyampaikan persoalan kelebihan muatan perahu penyeberangan tersebut. Pihak sekolah berharap ada evaluasi keselamatan karena kejadian serupa disebut berulang kali terjadi.

Ponsel Terendam, Ujian Tetap Berjalan

Dampak kejadian ini juga menyentuh kegiatan belajar. Para siswa sedang mengikuti Tes Kemampuan Akademik secara daring menggunakan ponsel masing-masing, dan sebagian perangkat rusak atau hilang karena terendam air laut. Menurut Kristin, siswa tetap mengikuti ujian dengan meminjam ponsel guru. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para nelayan yang menolong siswanya.

Kantor SAR Mentawai mengimbau masyarakat dan nelayan yang beraktivitas di perairan Mentawai agar mengutamakan keselamatan, dengan memakai life jacket atau alat apung yang sesuai serta membawa Personal Locator Beacon (PLB). Bagi pelajar kepulauan itu, sampan merupakan transportasi harian menuju sekolah akibat kondisi geografis dan keterbatasan akses darat.

Selamatnya seluruh siswa menjadi kabar baik, tetapi kejadian ini kembali mempertanyakan keselamatan transportasi harian anak-anak sekolah di wilayah kepulauan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *