Lumajang — Banjir lahar hujan Gunung Semeru menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (2/11/2026), setelah hujan lebat mengguyur kawasan puncak gunung. Banjir dan longsor melanda tiga kecamatan, merusak rumah, memutus akses jalan, dan berdampak pada lebih dari 1.100 warga. Dua orang, seorang ayah dan anaknya, dilaporkan meninggal akibat longsor.

Dipicu Hujan Lebat Sejak Minggu Malam

Hujan lebat mulai mengguyur kawasan Gunung Semeru sejak Minggu malam (1/11/2026). Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru mencatat getaran banjir lahar sejak Senin dini hari pukul 00.55 WIB dengan amplitudo maksimum 65 milimeter dan durasi sekitar enam jam. BPBD Kabupaten Lumajang menerima laporan banjir pukul 05.00 WIB.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru PVMBG, Agastya Rajendra, mengingatkan status gunung masih waspada.

“Saat ini Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga,” kata Agastya.

Menurut anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, banjir lahar semacam ini tidak harus didahului erupsi baru. Hujan berintensitas tinggi dapat mengangkut endapan material vulkanik di alur sungai yang berhulu di Semeru.

Tiga Kecamatan Terdampak

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyebut banjir juga dipicu meningkatnya debit Sungai Glidik yang berhulu di kawasan Semeru. Dampak terasa di Kecamatan Jatiroto, Tempursari, dan Pasirian. Sejumlah media lain menyebut Pronojiwo sebagai kecamatan terdampak.

Di Kecamatan Jatiroto, genangan setinggi 20 hingga 60 sentimeter merendam permukiman di Dusun Persil, Desa Rojopolo, dan berdampak pada sekitar 500 warga. Di Kecamatan Tempursari, banjir menggenangi sejumlah desa akibat luapan Sungai Rawaan dan Sungai Dol, dengan sekitar 600 warga terdampak. Total warga terdampak mencapai lebih dari 1.100 jiwa.

Tanggul Sungai Glidik di Desa Purorejo, Tempursari, jebol sehingga tiga rumah rusak, 10 rumah lainnya berisiko ambruk, dan 117 kepala keluarga di Dusun Taman Sari terisolasi. Akses jalan Purorejo–Tamansari Bawah sepanjang sekitar 100 meter putus, dan Jembatan Limpas di Sungai Glidik tidak bisa dilalui. Media lokal juga melaporkan jembatan penghubung Malang–Lumajang terputus, sementara penambang pasir di perbatasan Malang–Lumajang dilaporkan berlarian menyelamatkan diri.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, menjelaskan banjir membawa material vulkanik dalam volume cukup besar di sungai-sungai seperti Besuk Kobokan, Glidik, Kali Lanang, dan Besuk Sat.

“Banjir ini juga membawa material Semeru,” kata Yudhi.

Dua Korban Meninggal Akibat Longsor

Pada awalnya, BPBD Lumajang menyatakan belum ada laporan korban jiwa. Namun kemudian dilaporkan dua warga meninggal dunia akibat longsor. Menurut Satriyo, longsor pertama menimpa rumah dan membuat seorang ayah tertimbun setengah badan, sementara anaknya tertimbun seluruhnya. Tak lama kemudian terjadi longsor susulan yang menimbun keduanya. Warga setempat mengevakuasi kedua korban, yang kemudian dimakamkan.

Bantuan dan Imbauan

BPBD Jawa Timur menyatakan akan menyalurkan bantuan sembako dan material bangunan berupa semen dan bata untuk memulihkan rumah rusak. Sebuah media melaporkan santunan duka sebesar Rp20 juta bagi keluarga korban meninggal.

BPBD Lumajang mengimbau warga menjauhi sempadan sungai yang dialiri lahar hingga radius 500 meter, serta mengungsi bila berada di wilayah rawan longsor. Warga juga diminta waspada terhadap potensi banjir lahar susulan jika hujan kembali mengguyur kawasan hulu.

Banjir lahar hujan kali ini kembali mengingatkan bahwa ancaman Semeru tidak hanya datang dari erupsi, tetapi juga dari hujan lebat di hulu yang bisa menggerakkan material vulkanik ke permukiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *