Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus menimbulkan dampak terhadap aktivitas masyarakat. Selain kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya, gangguan jarak pandang juga menyebabkan penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dihentikan sementara sejak 1 Oktober 2026.

Berdasarkan laporan Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalimantan Tengah yang dikutip ANTARA, hingga 13 Oktober 2026, luas kumulatif lahan terbakar di provinsi tersebut mencapai 18.050,68 hektare dalam 6.255 kejadian. Di Kota Palangka Raya, luas lahan terbakar tercatat 1.185,42 hektare dengan 906 kejadian. Sementara itu, Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat 3.280,59 hektare lahan terbakar dalam 1.140 kejadian.

Kabut Asap Hambat Transportasi Udara

Dampak karhutla turut dirasakan di Kabupaten Kotawaringin Timur. ANTARA melaporkan pada Selasa (13/10/2026), aktivitas penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit masih ditutup sementara karena jarak pandang belum memenuhi standar keselamatan penerbangan.

Kepala Dinas Perhubungan Kotawaringin Timur, Raihansyah, menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jarak pandang pada pagi hari berkisar 500–800 meter. Pada siang hari, jarak pandang dapat turun menjadi sekitar 300 meter, bahkan kurang dari 100 meter pada sore hari.

Kondisi tersebut berada di bawah standar jarak pandang aman penerbangan yang disebutkan dalam laporan, yakni 2.000 meter. Penutupan dilakukan untuk menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat, sedangkan operasional bandara lainnya tetap berjalan.

Terhentinya penerbangan juga memengaruhi mobilitas masyarakat dan perjalanan bisnis. Penumpang yang hendak bepergian melalui jalur udara dari Sampit perlu mencari alternatif transportasi, termasuk melakukan perjalanan darat menuju bandara lain.

Ribuan Titik Panas Terdeteksi

Upaya penanganan karhutla terus dilakukan di berbagai wilayah Kalimantan Tengah. Dalam laporan harian BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah yang dirilis pada 12 Oktober 2026, tercatat 3.908 titik panas berdasarkan data BRIN dan SiPongi hingga 11 Oktober pukul 18.00 WIB.

Pada periode 24 jam yang sama, petugas mencatat 62 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 64,82 hektare. Kabupaten Seruyan mencatat 1.308 titik panas, sedangkan Kabupaten Kotawaringin Timur mengalami 21 kejadian kebakaran dengan luas lahan terbakar 9,25 hektare.

Data titik panas tersebut merupakan hasil pemantauan dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran aktif. Karena itu, verifikasi di lapangan tetap diperlukan untuk menentukan lokasi dan kondisi kebakaran yang harus ditangani.

Pemerintah Perkuat Penanganan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama petugas gabungan terus mengupayakan pemadaman serta penanganan dampak karhutla. Menurut laporan BPB-PK, sebanyak 12.717 personel gabungan disiagakan, didukung tujuh helikopter pemadam dan satu pesawat patroli untuk mendukung operasi penanganan.

Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat menghentikan aktivitas pembakaran lahan. Langkah pencegahan dinilai penting untuk mengurangi munculnya titik api baru dan menekan risiko meluasnya kebakaran.

Di sisi lain, Kementerian Kehutanan menyatakan pemantauan titik panas serta operasi darat dan udara terus diperkuat, termasuk di Kalimantan Tengah. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pemantauan dan pemeriksaan kondisi di lapangan.

Kondisi karhutla di Kalimantan Tengah memperlihatkan bahwa dampak kebakaran tidak terbatas pada kerusakan lahan. Kabut asap turut mengganggu transportasi dan kegiatan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, percepatan pemadaman, perlindungan warga, serta pencegahan kebakaran baru menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak bencana tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *