
Kasus influenza di Indonesia naik dalam beberapa pekan terakhir. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan kenaikan ini masih dalam kategori medium dan belum mengkhawatirkan. Pemerintah meminta masyarakat tidak panik dan tidak memborong obat antivirus.
Menurut surveilans Kemenkes hingga minggu ke-38 tahun 2026, aktivitas influenza di Indonesia dan Asia Tewnggara meningkat, tetapi masih berada dalam rentang sedang. Surveilans sentinel mencatat positivity rate influenza 56 persen pada minggu ke-38. Dari 265 spesimen yang diperiksa pada minggu tersebut, 148 dinyatakan positif, dan virus dominannya adalah Influenza A (H1N1pdm09). Angka itu naik cukup cepat. Pada minggu ke-35 (hingga 12 September), proporsi spesimen positif baru 38 persen, naik dari 22 persen pekan sebelumnya. Sekitar 33 persen kasus terdeteksi pada anak usia 0–4 tahun. Sepanjang 2026, sekitar 8.757 spesimen telah diperiksa dan 1.527 diantaranya positif.Tingkat aktivitasnya berbeda di tiap layanan. Di puskesmas aktivitas influenza sudah kategori sedang, sedangkan di rumah sakit masih rendah.
Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyebut kenaikan ini pola musiman yang lazim terjadi sekitar September hingga akhir tahun. Berdasarkan tren sebelumnya, aktivitas biasanya mulai turun setelah minggu ke-39 hingga ke-40.
Kasus influenza di daerah Bandung paling banyak menarik perhatian. Dinas Kesehatan Jawa Barat mencatat sedikitnya 65 kasus positif Influenza A di Kota Bandung hingga 25 September 2026 berdasarkan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS). Dinkes Jabar menegaskan angka itu belum menggambarkan penularan hanya terjadi di Bandung, sebab tidak semua daerah punya alat WGS. Hingga kini belum ada laporan pasien meninggal akibat influenza A di Jawa Barat.
“Kasus influenza di Kota Bandung ada peningkatan. Masyarakat yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan juga meningkat, terutama ke instalasi gawat darurat (IGD), padahal kasus influenza sebenarnya bisa ditangani di puskesmas, klnik pratama, praktik dokter maupun poliklinik rumah sakit”, Ungkap Sony Adam, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Kemenkes juga memantau H3N2 subclade K yang ramai disebut “superflu”. Istilah itu bukan nomenklatur resmi WHO maupun CDC. Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebut temuan subclade K tahun ini lebih rendah dibanding tahun lalu.
Di tengah kenaikan kasus, obat antivirus oseltamivir dilaporkan sulit dicari. Kemenkes menyebut stoknya sempat sulit ditemukan di sejumlah rumah sakit dan meminta warga tidak panic buying. Distribusi oseltamivir telah dilakukan ke sekitar 196 rumah sakit dan akan berlanjut sesuai kebutuhan. Pemerintah juga menambah pengadaan lewat produksi dalam negeri dan impor jalur khusus, karena produksi domestik belum mencukupi.
Menkes memastikan obat itu tersedia di rumah sakit, tetapi tidak boleh diberikan sembarangan karena berisiko memicu resistensi. Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menyebut kekhawatiran publik dipicu informasi di media sosial yang belum terverifikasi. Antivirus diindikasikan bagi kasus berat yang butuh bantuan oksigen dan kelompok rentan, seperti lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita komorbid, dan pasien imun lemah.
Sebagian besar kasus influenza pulih dengan perawatan suportif tanpa rawat inap. Masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memakai masker saat sakit atau di tempat ramai, dan menerapkan etika batuk dan bersin. Istirahat cukup dan asupan cairan yang memadai penting untuk mencegah dehidrasi. Jika muncul tanda bahaya, segera ke fasilitas kesehatan terdekat.
