Jombang — Ratusan pengasuh, pengurus, dan penggerak pesantren dari berbagai penjuru Indonesia memadati Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang, dalam gelaran Sekolah Transformasi Pesantren 2 yang berlangsung 23–25 Agustus 2026. Acara yang digagas Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) ini menjadi bagian dari rangkaian besar Pesantren Fest, mengusung tema yang menghunjam kuat: “Merawat Tradisi, Melejitkan Inovasi.”

Ini bukan sekadar seminar biasa. Ini adalah ruang perjumpaan antara akar tradisi pesantren yang kokoh dengan semangat perubahan zaman yang tak bisa lagi dihindari — dan di antara para narasumber yang tampil, satu nama mencuri perhatian karena kedalaman gagasan dan energi yang ia bawa ke atas panggung: Dr. Mufarrihul Hazin, S.Pd.I., M.Pd.

Sosok yang Membuktikan, Bukan Sekadar Berbicara

Bagi banyak kalangan pesantren dan NU, nama Dr. Mufarrihul Hazin bukan nama asing. Ia adalah bukti hidup bahwa transformasi bukan wacana kosong, melainkan jalan yang bisa ditempuh siapa saja yang berani berjuang. Lahir dari keluarga sederhana di Palembang, menempuh jalan panjang sebagai santri sejak usia 12 tahun di Pondok Pesantren Darussalam Lampung, lalu berlanjut nyantri di Pesantren Al-Hikam Malang asuhan KH. Hasyim Muzadi Dr. Farih, sapaan akrabnya, berhasil meraih gelar doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya pada usia 26 tahun, sekaligus dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.

Kini, sebagai dosen aktif dan akademisi dengan ratusan karya ilmiah yang telah dipublikasikan, ia dikenal luas sebagai motivator dan trainer pendidikan yang telah menjejakkan kaki di berbagai forum nasional. Rekam jejaknya sebagai aktivis NU — termasuk pernah menjabat Sekretaris Umum Pimpinan Pusat IPNU — menjadikannya sosok yang memahami betul denyut nadi pesantren dari dalam, bukan sekadar mengamati dari luar.

Kombinasi antara jiwa santri dan ketajaman akademisi inilah yang membuat kehadirannya di Sekolah Transformasi Pesantren 2 terasa begitu pas: seorang pembicara yang berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori.

Enam Pilar, Satu Semangat Perubahan

Sekolah Transformasi Pesantren 2 dirancang sebagai ruang belajar dan refleksi mendalam bagi pesantren untuk memperkuat kapasitas kelembagaannya menghadapi tantangan zaman, melalui enam pilar utama: tata kelola, kelembagaan, sumber daya manusia, kepengasuhan, kurikulum, dan infrastruktur. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya sukses digelar di Pondok Pesantren Darul Mughni, Bogor.

Dr. Mufarrihul Hazin tampil berdampingan dengan sejumlah tokoh penting lain, di antaranya Agus Muhammad, Gus Ulun Nuha (Sekretaris RMI PBNU), KH. Hodri Ariev (Ketua RMI PBNU), dan Siti Hanifah — merangkai panggung bergengsi yang mempertemukan lintas generasi penggerak pesantren.

Api yang Menyala di Rejoso

Suasana kelas yang dipandu Dr. Farih dikenal jauh dari kesan kaku dan menggurui. Dengan latar belakangnya sebagai trainer nasional dan pegiat public speaking, materi-materi manajemen pendidikan dan pengembangan SDM pesantren yang ia sampaikan dikemas dengan cara yang membumi, aplikatif, dan membakar semangat peserta untuk pulang membawa aksi nyata — bukan sekadar catatan di buku.

Foto-foto kebersamaan usai sesi yang beredar dari lokasi acara menunjukkan wajah-wajah antusias para peserta, kepalan tangan yang terangkat bersama sebagai simbol tekad, dan energi kolektif yang menjadi ciri khas setiap forum yang disentuh oleh sosok-sosok inspiratif seperti Dr. Mufarrihul Hazin.

Pesan untuk Generasi Pesantren

Perjalanan hidup Dr. Farih sendiri adalah pesan paling kuat yang ia bawa: bahwa keterbatasan ekonomi atau latar belakang keluarga bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Semangat itulah yang ia tularkan kepada generasi pesantren masa kini — bahwa tradisi yang kuat dan inovasi yang berani bukan dua kutub yang berlawanan, melainkan dua sayap yang harus dikepakkan bersama agar pesantren benar-benar melejit.

Dengan hadirnya sosok-sosok seperti Dr. Mufarrihul Hazin dalam forum sekelas Sekolah Transformasi Pesantren 2, harapan besar pun tumbuh: pesantren Indonesia tidak hanya akan tetap menjadi benteng tradisi keilmuan Islam, tetapi juga menjelma menjadi pusat inovasi yang siap menjawab tantangan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *