Jakarta — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi menghadirkan program Sekolah Garuda sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto di bidang pendidikan. Payung hukum program ini adalah Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Sekolah Menengah Atas Unggul Garuda, yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 20 November 2025.


Dalam Perpres tersebut, SMA Unggul Garuda diposisikan sebagai satuan pendidikan menengah yang menyelenggarakan pendidikan unggul dan inklusif, dengan tujuan mencetak lulusan berkompetensi tinggi di bidang sains dan teknologi yang siap melanjutkan studi ke perguruan tinggi terbaik.
Program ini dijalankan melalui dua skema utama. Skema pertama, Sekolah Garuda Baru, membangun sekolah unggulan dari nol; skema kedua, Sekolah Garuda Transformasi, memperkuat sekolah yang sudah berjalan dan berprestasi. Sekolah Garuda Baru diarahkan pada wilayah dengan akses pendidikan berkualitas yang masih terbatas, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ditargetkan hingga 2029 akan berdiri 20 Sekolah Garuda Baru, dengan empat sekolah pertama dibangun pada 2025 dan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027. Keempat sekolah tersebut berlokasi di Belitung Timur dan Timor Tengah Selatan (NTT), dengan lokasi lainnya menyusul.


Untuk jalur Transformasi, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menyampaikan bahwa pada 2025 sudah ada 12 sekolah yang tergabung, dengan tambahan sekitar 30 sekolah baru ditargetkan pada 2026 menuju total 80 sekolah pada 2029. Dua belas sekolah Transformasi angkatan pertama itu didampingi oleh enam perguruan tinggi negeri mitra, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, dan UGM. Dirjen Najib menambahkan bahwa dampak program ini turut menjangkau 680 SMA/MA lain melalui skema pengimbasan.


Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan arah kebijakan ini sejalan dengan instruksi Presiden. Ia menyampaikan Kemdiktisaintek ingin mendorong lebih banyak siswa diterima di perguruan tinggi terbaik dunia melalui kemitraan pembinaan sekolah lewat Sekolah Garuda Transformasi, sekaligus menekankan arahan Presiden Prabowo agar sebaran sekolah unggulan lebih merata, termasuk ke provinsi yang belum memiliki perwakilan Sekolah Garuda namun berpotensi besar.


Dari sisi akses, program ini juga menyasar siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Sekolah Garuda dibedakan dari Sekolah Rakyat: jika Sekolah Rakyat menyasar anak dari keluarga miskin dan rentan, Sekolah Garuda lebih difokuskan pada siswa SMA berprestasi dari keluarga kurang mampu, terutama yang berpotensi unggul di bidang sains dan teknologi. Pada penerimaan siswa baru 2026, kuota yang dibuka terbatas untuk 640 siswa terpilih se-Indonesia dengan skema beasiswa penuh mencakup pendidikan, asrama, dan makan.


Ekosistem Sekolah Garuda turut didukung Beasiswa Garuda bagi lulusan yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Pendanaannya bersumber dari Dana Abadi Pendidikan yang dikelola LPDP, dengan pendaftaran terintegrasi melalui portal resmi LPDP.
Dari Belitung Timur hingga Papua, Sekolah Garuda menjadi ikhtiar negara menghadirkan pendidikan unggul yang merata — tanpa memandang latar belakang ekonomi siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *