Cilacap, 29 September 2026 — Kisah Maulana Purwo Wibowo, pemuda asal Cilacap, Jawa Tengah, menjadi salah satu cerita paling menyentuh dari rangkaian duka tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Maulana, yang disebut berusia 18–19 tahun, dipastikan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam insiden kapal yang tengah berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin tersebut.

Namanya tercantum dalam daftar 16 korban tambahan yang berhasil diidentifikasi Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan bersama Mabes Polri pada Senin, 28 September 2026, setelah proses pencarian berlangsung lebih dari dua pekan. Dengan tambahan tersebut, total korban KM Virgo Transport 8 yang telah diketahui identitasnya mencapai 41 orang.

Bagi keluarga di Cilacap, kabar ini mengakhiri penantian panjang yang penuh harap. Sang kakek, yang telah renta dan selama ini mengasuh Maulana sejak kecil, terus memanjatkan doa agar cucunya pulang dalam keadaan selamat — harapan yang akhirnya kandas.

Yang membuat kisah ini viral dan menyita perhatian warganet bukan hanya kepergiannya, melainkan detail kecil yang ditemukan bersama jenazahnya. Di dalam dompet Maulana, petugas hanya menemukan uang tunai sekitar Rp13.500, serta dua kartu tanda penduduk (KTP) — miliknya sendiri dan milik sang nenek yang telah lebih dulu meninggal dunia.

Kerabat Maulana yang mengaku sebagai bibinya membenarkan temuan uang tersebut saat dikonfirmasi media.

“Iya betul Kak uang 13 ribu milik Maulana,” katanya.

Ia mengaku terkejut mengetahui keponakannya tetap membawa KTP sang nenek dalam perjalanan jauh ke tanah rantau, dan menduga itu adalah cara Maulana menyimpan kenangan tentang sosok yang membesarkannya.

“Aku juga kaget banget Kak dia sampai bawa KTP neneknya merantau jauh, mungkin lewat KTP itu dia bisa lihat foto neneknya Kak,” ujarnya.

Maulana diketahui berangkat ke Kalimantan dengan niat mencari pekerjaan, disebut-sebut untuk bekerja di perkebunan sawit, demi membantu memperbaiki perekonomian keluarga dan menghidupi kakeknya. Perjalanan itu disebut sebagai kali pertama baginya merantau jauh dari kampung halaman.

Kabar duka ini turut menyebar luas di media sosial, dengan banyak warganet turut berbelasungkawa dan menyoroti kesederhanaan bekal yang dibawa Maulana dibandingkan besarnya tekad dan harapan yang ia bawa dalam perjalanan tersebut.

Jenazah Maulana selanjutnya dipulangkan ke kampung halamannya di Cilacap untuk dimakamkan bersama keluarga yang telah lama menantikan kepulangannya.

Kisah Maulana menjadi pengingat pilu bahwa di balik angka-angka korban sebuah tragedi, tersimpan harapan sederhana warga kecil yang hanya ingin memperbaiki nasib keluarganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *