Bondowoso, 1 Agustus 2026 — Upaya meningkatkan aktivitas jasmani sekaligus melestarikan olahraga tradisional di tengah masyarakat terus dikembangkan melalui kegiatan Sosialisasi Peningkatan Desa Olahraga Tradisional Berbasis Aktivitas Jasmani dan Kebugaran Jasmani. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, bertempat di SMAN 2 Bondowoso, dan diikuti sebanyak 35 peserta yang berasal dari unsur kelurahan serta komunitas olahraga tradisional yang tergabung dalam Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
Kegiatan sosialisasi ini menghadirkan Andhega Wijaya, M.Or. sebagai narasumber. Kegiatan bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya aktivitas jasmani secara rutin serta bagaimana olahraga tradisional dapat dikembangkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tingkat desa maupun kelurahan. Pengembangan dilakukan melalui sosialisasi, edukasi, penguatan peran komunitas, serta kolaborasi antara unsur kelurahan, komunitas olahraga tradisional, KORMI, dan masyarakat. Peserta diharapkan dapat menjadi penggerak terbentuknya aktivitas olahraga yang rutin dan berkelanjutan di lingkungan masing-masing.
Dalam paparannya, Andhega Wijaya, M.Or. menekankan bahwa olahraga tradisional memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen peningkatan kebugaran masyarakat.
“Olahraga tradisional jangan hanya kita lihat sebagai permainan masa lalu, tetapi harus kita hidupkan kembali sebagai aktivitas jasmani yang menyenangkan, mudah dilakukan, dan mampu meningkatkan kebugaran masyarakat. Desa dan kelurahan dapat menjadi pusat aktivitas olahraga masyarakat dengan memanfaatkan potensi permainan tradisional yang ada di lingkungannya.”

Menurut Andhega, pembangunan desa olahraga tidak cukup hanya dengan menyediakan sarana olahraga, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan program yang dilakukan secara konsisten. KORMI dan komunitas olahraga tradisional dinilai memiliki peran strategis sebagai penggerak aktivitas olahraga berbasis masyarakat.
“Kuncinya adalah partisipasi. Ketika masyarakat terlibat secara langsung, olahraga akan menjadi bagian dari budaya hidup sehari-hari. Karena itu, sinergi antara kelurahan, komunitas, KORMI, dan berbagai pihak perlu diperkuat agar program desa olahraga dapat berjalan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali olahraga tradisional kepada generasi muda. Di tengah meningkatnya aktivitas sedentari dan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, permainan tradisional dapat menjadi alternatif aktivitas fisik yang bersifat rekreatif sekaligus edukatif.
Melalui kegiatan ini, diharapkan setiap kelurahan dan komunitas olahraga tradisional di Bondowoso dapat mengembangkan program aktivitas jasmani yang sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat. Dengan demikian, konsep desa olahraga tradisional tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aktif, sehat, bugar, dan tetap menjaga warisan budaya lokal.
